Nilai Dari Sebuah Kejujuran

Jujur sebenarnya merupakan sifat alami manusia. Bahkan sebelum kita lahir kedunia ini kejujuran kita sudah diuji oleh Tuhan. Kejujuran untuk mengetahui dan mengakui siapa Tuhan nya. Hanya iblis saja yang tidak bersifat tidak jujur, mereka lebih memilih untuk ingkar dan tidak mau mengakui kebenaran yang ada. Iblis tahu mana yang benar tapi mereka sekali lagi mereka memilih untuk bersikap tidak jujur.

Sifat kejujuran seseorang dibentuk oleh dirinya sendiri juga lingkungan tempat dia hidup dan bergaul sesamanya. Ibarat kata jika kita sering bergaul bersama penjual minyak wangi, maka kita setidaknya ikut wangi tentunya. Sebaliknya jika kita bergaul dengan pejual ikan asin tentunya aroma tersebut juga menempel pada diri kita. Jika kita sering bergaul bersama orang yang baik ( baca jujur ) setidaknya kita terpacu untuk mempunyai sifat seperti itu. Begitupun jika sering bergaul dan bersahabat dengan orang “kurang baik“ ( baca tidak jujur ), kitapun lama kelamaan akan terbawa untuk bersikap tidak jujur.

Sebenarnya hampir semua orang pernah bersikap tidak jujur dan bahkan secara tidak sadar mengajarkannya kepada orang lain. Tentunya ada berbagai alasan yang melatar belakanginya. Mungkin kita pernah melihat atau melakukan ketidakjujuran seperti ini, ketika kita melihat anak kita terjatuh kadang kita bereaksi spontan dan mungkin berkata "Oh, tidak apa-apa! Anak pintar, jagoan, enggak sakit, kok! Jangan nangis, yach please…!". Hal ini secara tidak langsung si-anak dilatih dan diajarkan kemampuan untuk dapat "berbohong" ( tidak jujur ), menutup-nutupi perasaannya (sakit) hanya karena suatu kepentingan agar dianggap pintar dan jagoan ( baca jagoan tidak pernah menangis ).


Kita juga sering melihat dan mengalami kejadian seperti ini misalnya, saat seseorang bertamu kerumah saya, ketika ditanya: " Sudah makan, belum?", Sebenarnya saya sangat serius mengatakannya dan mengajaknya untuk makan bersama. Tapi biasanya dengan cepat dia akan menjawab "Oh, sudah! saya baru saja makan ", padahal sebenarnya saya tahu dia belum makan. Untuk mengatasi ketidakjujuran ini kedepannya biasanya saya juga bersikap “tidak jujur”. Jika orang tersebut bertamu lagi ke tempat saya dan saya ingin mengajak dia untuk makan bersama, maka saya akan berkata seperti ini, “ Bisa minta tolong ga bantuin saya menggeser meja di dalam ? “ Biasanya orang tersebut tidak akan menolak dan dan menjawab “ Baik saya bantu, dimana mejanya ? saya jawab, “ di dalam ayo ikuti saya “. Tentunya dia akan mengikuti nya dan ketika sudah sampai di depan meja makan yang diatasnya sudah terhidang makanan, saya langasung "menodongnya" dengan memberikannya sebuah piring, sendok dan garpu. Alasan apapun untuk menolak makan bersama biasanya sudah susah untuk saya terima dan dia “terpaksa” ikut makan bersama. Setelah selesai makan saya menebus “ ketidakjujuran “ tadi dengan mengajaknya menggeser meja makannya walau hanya bergeser beberapa centimeter saja.

Bersambung…..

0 komentar: